"Uang Rp 400 juta itu tidak masuk akal. Nggak mungkinlah si Haris mempunyai dana sebesar itu, tak ada itu, dapat dari mana, saya tahu persis kondisi keuangan JAT," kata amir JAT, Abu Bakar Ba'asyir kepada wartawan di Kantor Pusat JAT di Sukoharjo, Sabtu, 15 Mei 2010.
Ba'asyir tidak percaya Haris ditangkap dengan tuduhan terlibat teroris. "Haris itu Ketua JAT Jakarta, dia tidak mungkin punya uang sebesar itu. Cari Rp 40 juta saja sudah pening," kata dia.
Ba'asyir membantah Haris menyumbang dana Rp 400 juta untuk aksi terorisme, karena ia mengetahui persis kondisi ekonomi Ketua JAT Jakarta itu dengan keluarganya. "Haris itu kondisi ekonominya lemah. Kita di JAT itu cari dana dari amaliah fi sabilillah, seperti sumbangan dari seorang dokter, dan anggota JAT. Dana tidak mungkin sebesar itu, seperti yang disampaikan Kapolri," ungkap Ba'asyir.
Ia mencontohkan lemahnya keuangan JAT, dari markasnya di Jakarta yang saat ini sebenarnya kontrakan yang sudah habis waktunya. "Saat ini habis masa kontraknya, sudah diminta yang punya. Jadi markas saja pinjam dari orang," kata Ba'asyir.
Sementara salah satu ustaz JAT di Solo, Abdurrahman membenarkan, markas JAT di Jakarta adalah rumah kontrakan yang sudah habis masa kontraknya. " ita baru cari tempat lain, tapi harganya pasti mahal-mahal karena di Jakarta," katanya.
Ia mengungkapkan markas JAT yang sudah diminta yang punya dikontrak sebesar Rp 9 juta per tahun. Markas itu sudah dikontrak selama dua tahun.
Sebelumnya, Kapolri membeberkan ada aliran dana dari teroris di Pejaten sebesar Rp 1 miliar. Dana itu berhasil dibekukan. Salah satu pemilik dana tersebut adalah Haris yang memiliki dana Rp 400 juta.
3:05 AM

Posted in:
0 komentar:
Post a Comment